English French Russian Japanese Arabic


4 Polisi Jujur Kebanggaan Indonesia

Contoh Polisi Yang Jujur.
Tak mudah untuk mencari seorang pejabat atau polisi yang bermental baja, tak tergoda dengan uang. Namun, Gita Wirjawan sebagai salah satu peserta konvensi Partai Demokrat mempunyai optimisme yang tinggi, bahwa masih ada polisi jujur yang siap melindungi masyarakat dan menegakkan aturan dan tidak mau menerima suap.

Komitmen Gita itu ditunjukkan dengan memunculkan video yang diunggah di YouTube, yang menunjukkan komitmen seorang polisi lalu lintas yang enggan menerima suap dari seorang pengendara mobil yang melanggar lalu lintas.

Menurut Gita, Iklan kampanye yang menceritakan polisi jujur menolak uang damai dari pengendara yang melanggar, dibuat bukan tanpa alasan. Gita mengatakan bahwa untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik, diperlukan pola pikir optimis.

"Saya selalu berpikir optimis, dan optimisme adalah modal utama saya berpikir optimis untuk apa yang harus dilakukan ke depan," kata Gita saat kunjungan media ke kantor merdeka.com, Tebet Barat, Jakarta, Senin (18/11).

Penggerak perubahan tak harus memandang profesi atau kedudukan seseorang di masyarakat. Seperti soal perang terhadap korupsi, semua elemen di masyarakat harus turut andil menyelesaikan penyakit yang selama ini telah menyusahkan rakyat.

"Menurut saya, eradikasi korupsi harus nyata di depan masyarakat, semangat untuk berani mengatakan tidak," lanjutnya.

Optimisme Gita untuk mewujudkan polisi jujur di Indonesia bukanlah sekedar mimpi di siang bolong. faktanya, Indonesia sebagai negara hukum mempunyai catatan tentang beberapa pejabat polisi yang teguh pendirian dan berani menegakkan aturan. Berikut beberapa polisi jujur yang berani menegakkan aturan dan memerangi korupsi.

1. Jenderal Hoegeng
Pada era orde baru, Kapolri Jenderal Hoegeng diberhentikan Presiden Soeharto. Banyak motif politik di belakang pencopotan Kapolri yang dikenal tegas dan jujur. Sepak terjang Hoegeng beberapa kali membuat kroni keluarga Cendana terusik. Apalagi sejumlah kasus diduga melibatkan orang-oprang dekat Soeharto sebagai presiden yang dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter.

Perseteruan antara Soeharto dan Hoegeng memuncak, baru tiga tahun menjabat, Hoegeng akhirnya diberhentikan oleh Soeharto sebagai Kapolri tanggal 2 Oktober 1971. Soeharto mengganti Hoegeng dengan alasan penyegaran. Ironisnya pengganti Hoegeng, Jenderal M Hasan malah lebih tua satu tahun.

Soeharto menawari Hoegeng dengan jabatan sebagai duta besar atau diplomat di negara lain. Sebuah kebiasaan untuk membuang mereka yang kritis terhadap Orde Baru. Hoegeng menolaknya.

"Saya tidak bisa jadi diplomat. Diplomat harus bisa minum koktail, saya tidak suka koktail," sindir Hoegeng.

Ada beberapa penyebab kenapa Hoegeng diganti. Salah satunya kasus penyelundupan mobil yang dilakukan Robby Tjahjadi.

Kasus itu sangat fenomenal pada akhir periode 1960an sampai awal 1970an. Robby adalah anak muda yang menyelundupkan ratusan mobil mewah ke Indonesia. Mulai Roll Royce, Jaguar, Alfa Romeo, BMW, Mercedes Benz dan lain-lain.

Robby menyuap sejumlah pihak di bea cukai dan kepolisian untuk melanggengkan aksinya. Diduga ada keterlibatan kroni keluarga Cendana dalam kasus ini.

2. Irjen Ursinus Medellu
Irjen Ursinus Medellu merupakan Direktur Lalu Lintas Markas Besar Angkatan Kepolisian di bawah kepemimpinan Hoegeng di tahun 1965-1972. Seperti komandannya, Ursinus adalah komandan lalu lintas yang anti suap dan tak pandang bulu menegakkan hukum.

Ada cerita menarik dari kepemimpinannya sebagai Direktur Lalu Lintas periode 1960an, Ursinus mengendarai mobil jip dinasnya di kawasan Jl Thamrin. Dia melihat seorang anak muda yang mengendarai mobil sedan dengan ugal-ugalan. Disetop petugas, anak muda itu cuek saja.

Maka Ursinus tancap gas mengejar sedan itu. Diberinya isyarat supaya berhenti, tapi si anak muda malah menantang. Ursinus kemudian mengambil tindakan tegas. Dia memepet mobil sedan itu hingga menabrak trotoar dan berhenti.

"Si anak muda itu keluar, dia tantang papa saya. Katanya dia anak menteri. Papa saya bilang, nggak ada urusan. Sekarang kamu ikut ke kantor," kata Elias Christian Meddelu, putra sulung Ursinus menceritakan kisah itu di rumahnya di kawasan Otista, Jakarta Timur seperti dikutip dari merdeka.com.

Ursinus meneladani Hoegeng. Polisi jangan takut menegakkan hukum, siapa pun orangnya. Tugas utama polisi melindungi dan melayani rakyat. Bukan melindungi dan melayani anak pejabat.

Maka kalau paham tugasnya polisi tak menerima sogok. Ursinus menolak suap, walau hanya sebuah lemari dari pengusaha. Padahal tak ada lemari pakaian di rumahnya. Dia juga menolak upeti 1.000 liter minyak yang biasanya jadi jatah Kapolda Sumatera Utara. Bayangkan ada jenderal polisi yang kesulitan menguliahkan anaknya. Tapi itulah Ursinus Medellu.

3. Mayor Miran
Nama Muhammad Miran sudah tidak asing lagi bagi warga Kota Malang yang lahir di era 60-80 an. Meski sudah pensiun, sosok perwira polisi ini sangat disegani mulai dari rakyat jelata hingga wali kota.

Pria kelahiran Magetan 21 Maret 1944, mulai menjadi polisi sejak 1 Juli 1964. Pengabdiannya pada masyarakat dia tunjukkan dengan senantiasa bersikap jujur dan tanpa pamrih. Miran pantang menerima imbalan atau suap dari orang yang melanggar lalu lintas. Karena kiprahnya sebagai aparat negara yang terkenal jujur dan tegas, Miran yang tinggal di daerah Kepuh, Kecamatan Sukun, Malang, ini banyak dikenal masyarakat disekitarnya.

"Saya orangnya kenceng (tegas), kalau ada yang melanggar pasti saya peringatkan," ungkapnya. Sikap tegas yang ditunjukkan ayah tiga anak tersebut membuat dia disegani dan dihormati warga Kota Malang.

Berbeda dengan pejabat lainnya yang ingin menikmati masa pensiun dengan bersantai ria, Miran yang sudah purna tugas dari polisi dengan pangkat mayor sempat menjadi kepala security di sebuah supermarket di kawasan Blimbing, Malang.

Susah untuk dipercaya mendengar seorang berpangkat mayor kemudian beralih menjadi petugas keamanan di supermarket setelah pensiun. Tapi hal itu benar-benar dilakukan Miran selama dua tahun periode, yaitu pada tahun 1999 dan 2000.

"Daripada menganggur di rumah lebih baik beraktivitas," katanya dengan santai. Miran tidak gengsi melakoni aktivitas barunya itu.

4. Aiptu Jaelani
Di tengah banyaknya berita negatif tentang pejabat kepolisian akhir-akhir ini, ternyata masih ada sosok pejabat polisi yang bersikap tegas dan jujur dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat. Sosok itu adalah Aiptu Jailani, anggota Satlantas Polres Gresik, yang sempat menerima penghargaan dari Polda Jawa timur karena kredit point dengan jumlah surat tilang terbanyak, yaitu 2400 surat tilang selama satu tahun.

Di korps kesatuan lalu lintas, sudah menjadi rahasia umum, banyak 'lahan basah' yang bisa dimanfaatkan anggota kepolisian mulai dari pengadaan Surat UIzun Mengemudi (SIM) hingga surat tilang. Namun bagi Aiptu Jaelani, hal itu tidak berlaku bagi dirinya. Jailani tidak pernah pandang bulu pagi siapapun pelanggar lalu lintas, Mengemban amanah sebagai polisi lalu lintas, Jailani telah menilang pelanggar lalu lintas dari berbagai macam latar belakang. Mulai dari warga sipil, petinggi polisi, TNI, wartawan hingga pejabat Pemkab Gresik. Bahkan, di tahun 2012, suami dari Rahmawati itu, pernah menilang seorang anggota KPK dan istrinya sendiri.

Saat itu, diceritakan Jailani, dia melihat mobil yang menerobos lampu merah, lalu saya kejar. "Saat mobil sudah saya hentikan, saya mencatat surat tilang, lalu si pengemudi keluar dan menyodorkan uang Rp 50 ribu kepada saya," ungkap Jailani.

Jailani dengan sigap menolak tawaran uang 50 ribu yang disodorkan kepadanya. si pengemudi malah mengeluarkan tanda anggota KPK sambil meminta 'damai' yang padahal, mestinya anggota KPK yang notabene-nya petugas pemberantas tindak korupsi, men-support anti suap.

"Mesti begitu, ya tetap saya proses. Sebab cara mengemudinya, bisa membahayakan orang lain dan dirinya sendiri," kata Jailani tanpa menyebut nama si pengemudi sambil memperagakan cara anggota KPK itu memperlihatkan identitasnya.

Selanjutnya, kisah aksi tilang Jailani yang paling diingat oleh warga Gresik. Kisah Polantas kelahiran Jombang 44 tahun silam itu, ketika menilang sang istri, Rahmawati (45), warga Jalan Jaksa Agung Suprapto Gg 6D/23 pada bulan Maret 2012.

Saat itu, Jailani bertugas mengamankan Car Free Day (CFD). Istrinya yang dalam perjalanan pulang, melintasi gang kecil dan terjebak di jalur CFD. Oleh polisi lain, Rahmawati diarahkan keluar dari area CFD. Sayang, pelanggaran itu, diketahui suaminya yang tengah mensweeping pengendara motor yang melanggar rambu CFD.

Rahmawati pun mendapat tilang dari sang suami. "Untung hari itu, hanya teguran tilang simpatik saja, sehingga istri saya tidak sampai disidang. Dan untungnya juga, istri saya mau mengerti dan memahami tindak tegas saya. Justru dia mendukung aksi saya," ungkap Jailani sembari tersenyum geli.


Rabu, 27 November 2013 (13:08 WIB)
Sumber : Ayogitabisa.com

0 komentar:

Posting Komentar

International Atheists International Atheists James Randi Foundation richard dawkins foundation
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Email: skepticalface@gmail.com | skepticalface@gmail.com | skepticalface@gmail.com
Copyright © 2013. Indonesian Skeptics - All Rights Reserved.
Template Created by Mas Kolis Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger